Persepsi Masyarakat Terhadap Komunitas Transgender
Dosen : Puti Anggraini
Disusun Oleh : Ratiningsih/17513306
2pa07
Fakultas Psikologi, Jurusan Psikologi 2015.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makhluk hidup yang ada didunaia beragam jenis bentuknya seperti manusia.Manusia juga memiliki keragaman salah satunya bisa diliat dari segi jenis kelamin,yaitu pria an wanita. Tetapi dalam kasus ini,terjadi ketidak jelasan antar status jenis kelamin yang dia miliki.Contohnya dia seorang laki-laki tetapi dalam jiwanya dia memiliki jiwa seorang wanita dan kasus sebaliknya.dan ada juga orang yang memiliki due jenis kelamin yang tidak jelas apakah status yang sebenarnya.Hal tersebut membuat mereka berbeda dengan yang lain nya.Mereka dianggap tidak normal atau bias disebut transponder.
Transgender memang berbeda dengan pria dan wanita normal,tetapi sbagai warga negara mereka tetap memiliki hak dan keajiban untuk negaranya terutama hak asasi manusia. Seorang Waria memiliki hak yang sama dengan pria dan wanita normal lainnya,salaupun dimata msyarakat dia dianggap tidak jelas status yang dimiliki dan menjadi bahan cemooh serta dapat dikucilkan dari lingkungan dia berada. Banyak sekali persepsi masyarakat mnengenai transgender yang banyak di lakukan karena pada masyarakat umum tindakan transgender diaghap sebagai hal yang tabu, dan di lakukan oleh kalangan tertentu seperti pekerja salon, ahli rias wajah, dan pekerja malam. Berbeda jika tindakan transgender di lakukan di negara lain seperti Thailand. Di Thailand transgender merupakan tindkan yang umum, bahkan mereka mendapat pengakuan dari masyarakat dan dapat memperoleh pekerjaan seperti masyarakat pada umumnya.
Penulis tertarik pada kasus transponder karena di Indonesia sendiri kasus transponder merupakan suatu hal yang tabu bagi masyarakat. Namun bagi beberapa publik figur merupakan suatu solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah dalam dirinya. Seperti Dena Rachman yang melakukan trnsgender karena ia merasa bahwa ada jiwa yang terperangkap dalam dirinya. Dena merasa bahwa dirinya adalah perempuan sedangkan wujud fisiknya adalah laki-kaki, sehingga perlu di analisa lebih lanjut.
BAB II PEMBAHASAN
Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendiskripsikan orang yang melakukan,merasa,berfikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat merka lahir. Transgender tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari orientasi seksual orangnya. Orang-orang transgender biasanya mengidentifikasikan dirinya sebagai heteroseksual ,homoseksual, beseksual, panseksual, poliseksual, atau aseksual. Sesorang yang tidak jelas dengan status kelaminnya disebut transgender atau transseksualisme yang merupakak suatu gejala ketidakpuasan seseorang karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun ketidak puasan denan alat kelamin yang dimilikinya. Ekspresinya bisa dalam bentuk dandanan, gaya dan tingkah laku,bahkan sampai operasi penggantian kelamin (Sex Reassignment Sugery). Dalam DSM ( Diagnostic and statistical Manual of Mental Disorder) – III ,penyimpangan ini disebut sebagai transseksual,a-seksual,homoseksual,heteroseksual.gender dysporia syndrome. Penyimpangan ini terbagi menjadi beberapa subtipe meliputi transseksual, a-seksual, homoseksual, heteroseksual.
Adapun penyebab seorang pria menjadi seorang wanita atau waria atau penyebab terjadinya transgender dapat di akibatkan 2 faktor,yaitu:
Faktor Bawaan (Hormon dan gen)
Faktor genetik dan fisiologis adalah faktor yamg ada dalam diri individu karena ada masalah antara lain dalam susunan kromosom,ketidak seimbangan hormon, struktur otak,kelainan susunan syaraf otak.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan diantaranya pendidikan yang salah pada masa kecil dengan membiarkan anak laki-laki berkembang dalam tingkah laku perempuan,pada masa pubertas dengan homoseksual yang kecewa dan trauma,trauma pergaulan seks dengan pacar ,suami dan istri.
Adapun tanda-tanda seorang pelaku transgender yang dapat dilacak melalui DSM (Diagnostic and Stastitical Manual of Mental Disorders ) yaitu:
Perasaan tidak nyaman dan tidak puas dengan salah satu anatomi tubuhnya.
Berharap dapat berganti jenis kelamin dan hidup dengan jenis kelamin lain.
Mengalami guncangan yang terus –menerus untuk sekurang-kurangnya selama dua tahun dan bukan hanya ketika datang stress.
Adanya penampilan fisik interseks atau genetika yang tidak normal.
Dan dapat ditemukannya kelainan mental semisal schizopherina yaitu menurut J.P. Chaplin dalam Dictionary of Psycology ( 1981) semacam reaksi psikologis dicirikan diantaranya dengan gejala pengurungan diri ,ganggua pada kehidupan emosional dan afektif serta tingkah laku negativisme.
Salah satu akibat adanya transgender yaitu munculnya istilah waria yaitu wanita pria.Waria adalah seorang pria yang secara psikis merasakan adanya ketidakcocokan antara jati diri yang dimiliki dengan alat kelaminnya,sehingga akhirnya memilih dan berusaha memiliki sifat dan perilaku lawan jenisnya yaitu wanita. Fisik mereka laki-laki namun caraberjalan,berbicara,berdandan mereka mirip perempuan. Orang yang secara genetika mempunyai potensi penyimpangan ini dan didukung oleh lingkungan ,keinginannya sangat besar untuk merubah diri menjadi waria. Misalnya ada laki-laki yang tidak percaya diri atau tidak nyaman bila tidak berdandann atau berpakaian wanita.Selain itu,faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi yaitu faktor ekonomi misalnya awalnya hanya untuk mendapatkan uang tapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan.
Pada masyarakat umum transgender merupakan keadaan yang di anggap menyimpang. Adapun dampak dan pandangan menurut masyarakat adalah sebagai berikut:
Dampak menjadi transgender dan waria
Telah kita ketahui faktor seseorang mejadi transgender yaitu terdiri dari dua faktor yaitu gen atau bawaan dan faktor luar atau lingkungan.Semua kasus Transgender disebabkan oleh kedua faktor tersebut,karena kita yakin bahwa semua orang yang bersifat transgender atau transseksual tidak menginginkan itu terjadi.Seorang waria pasti akan berkata tidak meminta dilahirkan sebagai waria dengan mendandani diri sebagai wanita ,ia mendapatkan kenikmatan batin yang begitu dalam ,ia seolah terlepas dari beban psikologis yang selama ini masih memberatkannya.Sehingga kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya kepada orang yang mengalami kasus transgender tetapi kita harus bersama-sama menyikapinya dengan baik.
Pada umumnya,seseorang yang berbeda atau tidak normal dianggap berbeda dan tidak masuk dalam kelompok yang sama,karena mereka dianggap memiliki perpedaan yang membuat orang memandang itu tidak layak untuk hidup berdamppingan.Biasanya mereka dikucilkan dari lingkungan dan dijadikan bahan pembicaraan atau cemooh oleh masyarakat sekitar.Bahkan mereka dianggap membawa pengaruh negativ untuk lingkungan masyarakat.
Seorang transgender yaitu ddalam kasus waria masih memiliki kendala seperti diskriminasi yang mencederai hak waria sebagai warga negara misalnya mencari pekerjaan.Dan merekapun juga dianggap sampah masyarakat .Padahal kita ketahui seorang waria bisa menjadi penghiibur dan memiliki kreatifitas tinggi yaitu dibidang seni.
Pandanagan masyarakat terhadap kasus transgender.
Kita ketahui kebanyakan masyarakat memandang seorang yang terkait kasus transgender seperti waria memiliki pandangan negativ ,karena mereka menganggap bahwa seorang transgender itu telah mengubah kodrat yang diberikan Tuhan sejak lahir dan itu merupakan larangan agama. Memang ini sangat dilarang oleh agama dan sangat bertentangan apalagi sampai mengubah atau mengoperasi alat kelamin.Adapun hukum operasi kelamin dalam syariat Islam harus diperinci persoalan dan latar belakangnya.
Kesetaraan pelaku transgender dengan lingkungan sekitar. Seseorang yang melakukan Transgender memiliki HAM yang sama dengan warga negara normal.HAM tersebut tidak boleh dihilangkan karena dia berbeda dengan yang lain atau dianggap tidak sama ,karena HAM merupakan hak yang mutlak dibawa seseorang sejak lahir. Selain itu juga,sebagai warga negara,pelaku transgender bersama warga negara yang memiliki status jenis kelamin normal berkewajiban membangun negaranya dan mensukseskan kjalannya pemnbangunan negara. Tetapi sebagai orang yang beragama,pelaku transgender seperti waria harus tetap kembali kepada kodratnya.Karena tindakannya itu melanggar agama dan telah merubah kodrta yang ditetapkannya sejak lahir.Tetapi hal itu bisa disikapi agar mereka tetap berada dijalan Allah SWT dengan mengajak mereka pada pendekatan agama.
CONTOH KASUS
Transgender Denna Rachman atau Renaldy
Menanggung konsekuensi sebagai Transgender sangat berat. Terlebih bila itu dilakukan di Indonesia. Hal ini dirasakan oleh Dena Rachman. Toh begitu, pemilik nama asli Renaldy yang dulu penyanyi cilik personel Trio Kwek Kwek ini mantap menjalani hari-hari sebagai perempuan. Malah ia santai curcol (curhat gaul) baru-baru ini menjalani operasi payudara di Korea Selatan.
“Tanggal 30 September berangkat ke sana. Banyak selebriti Korea yang pernah ditangani mereka karena sudah established dari tahun 2007. Aku bangga, karena dari Indonesia belum ada,” kisah Dena. Sebelum menjalani operasi, ia menjalani beberapa tes. Mulai dari pengukuran badan hingga pengecekan kondisi jantung.
“Sebelum operasi, pastinya aku konsultasi dan menjalani pengecekan kondisi medis, dan pengukuran tubuh, cocoknya bagaimana. Aku juga tes darah, urine, detak jantung itu basic ya untuk jalani operasi, karena harus prima,” jelasnya.
Tapi Dena membantah hanya latah tren. Menurutnya, implan payudara dijalaninya bukan karena emosi sesaat.
“Aku jalani ini serius. Ada hormon estogren meski juga ada testosteron. Ini ciptaan Yang di Atas, bukan aku yang mau,” ungkap Dena.
Menurut dia, ada yang berbeda dalam dirinya sejak kecil. Beruntung keluarga juga mendukung keputusannya.
“Mereka happy banget, ada yang berbeda dari diri aku. Mereka mengerti sama yang aku alami,” katanya. “One step closer untuk jadi orang yang lebih baik versi Dena Rachman. Ini kan bukan yang pertama kali terjadi. Bahkan wanita yang payudaranya kecil juga operasi untuk lebih percaya diri.”
Tak disangka, orangtua Dena juga santai saja dengan pilihan hidup yang diambil sang putra. “Dia kayak aku, dia cerita. Pernah dia cerita punya sahabat dan mereka sudah menikah, dia bilang, aku kapan ya" Dia mungkin ada perasaan ke situ, cuma belum berani,” ungkap ibunda Dena, Gina Rachman.
Gina juga mengisahkan keseharian sang anak di rumah. Menurutnya, perilaku Dena memang layaknya perempuan. Bahkan, ia sudah kepikiran untuk menikah. Ya, layaknya seorang manusia, Dena pun membutuhkan pasangan untuk menjalani sisa hidupnya. Ibunda pun menuturkan sosok pria idaman anaknya itu. Seperti apa? “Setahu aku Dena menyukai laki-laki yang pintar,” cetus Gina. “Terus suka laki-laki nyambung yang tentunya lebih dari dia yang ngertiin dia.”
Lantas bagaimana tanggapan soal keputusan anaknya untuk operasi payudara? “Tante merasa suatu saat akan terjadi, dulu dia masih ditanya jawabnya nggak mau.” (MER/rmo/jpnn).
ANALISISKASUS Pada kasus transgender yang di alami Denna Rachman dapat dijelaskan dengan Teori:
Psikoanalisis Sigmund Freud.
Sigmun Frued memandang proses sosialisasi berdasar pada tahap-tahap psikoseksual dan dinamika kepribadian. Sigmund Freud meyakini bahwa sosialisasi individu akan melewati periode-periode psikoseksual, yaitu mulai masa anak sampai masa dewasa. Secara khusus, Sigmund Freud memiliki pandangan bahwa pengalaman pada masa anak awal memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan kedewasaan individu di masa mendatang. Freud membagi menjadi 5 tahap perkembangan yaitu ; masa oral, anal, falik, laten dan genital (Hanurrawan,2004). Berkembangnya perilaku transeksual dan transgender dapat disebabkan karena kurangnya peran orangtua dalam memberikan pengertian kepada anak, ketika anak dalam tahap falik, yaitu usia 3 tahun sampai 5 tahun. Pada tahap ini, sumber kenikmatan seorang anak adalah pada organ-organ seksualnya. Menurut Freud, seorang anak yang tidak dapat melewati tahap ini secara baik akan mengalami gangguan dalam pembentukan identitas gendernya. Jadi,apabila pada tahap ini si anak tidak dapat memahami identitas gendernya dengan baik, si anak dapat merasa bingung dengan fungsi gendernya. Selain itu, kurangnya pengertian orang tua pada periode perkembangan akhir, yaitu tahap genital ( usia 11 tahun ke atas ), juga dapat berpengaruh terhadap tumbuhnya perilaku transeksual dan transgender. Pada tahap ini, sumber kenikmatan individu adalah pada hal-hal yang berhubungan dengan relasi sosial dengan lawan jenis. Apabila individu tidak mendapat pengertian tentang siapa lawan jenisnya dengan baik, maka anak akan menjadi bingung, apakah seharusnya perempuan memiliki reaksi kenikmatan terhadap laki-laki, demikian juga sebaliknya.
Teori belajar social
Teori belajar social mengemukakan bahwa melalui belajar pengamatan (observational learning), individu dapat memiliki pola perilaku baru. Dalam kasus-kasus psikologi,istilah belajar pengamatan memiliki padanan makna dengan istilah-istilah seperti imitasi atau permodelan (modeling). Istilah-istilah itu mengacu pada kecenderungan individu untuk memunculkan perilaku,sikap dan respon emosional berdasar pada peniruan terhadap model yang disimbolkan (Zanden,1984). Perilaku transeksual dan transgender,dapat disebabkan karena adanya pengamatan seseorang terhadap lingkungannya. Misalnya,apabila seseorang berada dalam lingkungan yang kesehariannya dipenuhi masyarakat yang berperilaku transeksual atau transgender, maka secara langsung maupun tidak langsung, ia juga dapat menanamkan perilaku tersebut pada dirinya.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Masalah kebingungan jenis kelamin atau lazim disebut juga sebagai gejala transseksualisme ataupun transgender merupakan suatu gejala ketidakpuasan seseorang karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun adanya ketidakpuasan dengan alat kelamin yang dimilikinya.Ekspresinya bisa dalam bentuk dandanan,make up,gaya bicara,berjalan,dan lainnya.,bahkan ada yang sampai melakukan operasi jenis kelmamin .Dalam DSM –III ,penyimpangan ini disebut juga sebagai gender dysphoria syndrome.Terdapat dua faktor yang menyebabkan seseorang melakukan transgender yaitu faktor gen atau faktor bawaan dan faktor luar atau lingkungan.
Perbedaan yang dimiliki setiap orang tersebut itu bermacam-macam,seperti penjelasan transgender yang memiliki perbedaan pada status jenis kelaminnya .Walaupun berbeda seperti itu,kita memiliki kesetaraan atau kesamaan yang harus dihormati dengan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai warga negara.
Saran
Sebagi mahkluk Tuhan,hendaknya kita saling menghargai kehidupan orang yang memiliki perbendaan ,karena pada prinsipnya seseorang yang berbneda tidak meminta ketidak normalan yang terjadi pada tubuhnya,tetapi sikap psikologisnya yang mempengaruhi. Dan mereka memiliki HAM yang sama dimata negaranya. Dari pandangan agama,seseorang yang memilih utnuk transgender hingga sampai mengoperasi alat kelaminnya tidak diperbolehkan atau dilarang. Untuk membuat seseorang menyadari kesalahannya sebaiknya kita melakukan pendekatan atau pengayoman ,bukan menjahuhi mereka, karena perubahan tidak terjadi secara langsung namun bertahap. Tetapi sebagai orang yang beragama, pelaku transgender seperti waria harus tetap kembali kepada kodratnya sebagai laki-laki. Karena tindakannya itu melanggar agama dan telah merubah kodrta yang ditetapkannya sejak lahir.Tetapi hal itu bisa disikapi agar mereka tetap berada dijalan Allah SWT dengan mengajak mereka pada pendekatan agama.
DAFTAR PUSTAKA
Bartens, Kees. 2006. Psikoanalisis Sigmund Frued. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Feist J.Feist G(2010) Theoriest of personality Ed.Boston.Mc Grawhill
Lie Tjoen Jie (2014) Materi 1 Psikologi Umum 2, Gunadarma
HYPERLINK "https://denfian6.wordpress.com/2012/06/05/jenna-talackova-dialah-miss-transgender-manusia-dan-pandangan-hidup/" https://denfian6.wordpress.com/2012/06/05/jenna-talackova-dialah-miss-transgender-manusia-dan-pandangan-hidup/
: HYPERLINK "http://biodatain.blogspot.com/2014/11/biodata-dena-rachman-aka-renaldy-rahman.html" http://biodatain.blogspot.com/2014/11/biodata-dena-rachman-aka-renaldy-rahman.html
HYPERLINK "http://www.jpnn.com/read/2014/10/16/263949/Dena-Rachman-Mantap-Transgender-Karena-Restu-Ibunda-" http://www.jpnn.com/read/2014/10/16/263949/Dena-Rachman-Mantap-Transgender-Karena-Restu-Ibunda-